semalaman dipandanginya langit, tiada bosannya,
disesapnya berbatang rokok, dengan asap berbuntal
yang diupayakannya menbentuk kata hatinya : lingkaran
rindu, bentuk hati, atau hanya bentuk bentuk semrawut,
terkadang berjam jam di malam sunyi berdiri mendera angin,
'mengusir keringat' kilahmu, atau bak super hero kau tunggangi
dinginnya fajar berbekal kail dan joran tak tersentuh bengong
memandangi sang dewi malam kembali keperaduan, dan entah
bagaimana seharian romantisme mengalahkan sinisme dalam darahmu
'ah, kau cantik bagai dewi malam, mukamu sebulat rembulan,
alismu menyabit setengah rindu, wajahmu bersinar bak purnama'
atau ketika dasanama sang rembulan menghiasi syair sunyi
dinding dinding kamar : oh, kartika kekasihku, wahai badra nan ayu,
oh sitoresmi pujaanku, duh sasi pemilik hatiku
dan hari ini dengan berbinar, kau berdiri di depanku
'aku telah menikahi rembulan semalam'
tiba tiba langit hanya dipenuhi bintang
pati, 30 juli 2010
Jumat, 30 Juli 2010
requiem kata
kita selalu saja berselisih kata, memang terlalu banyak jalan tikus,
bahkan pagar pun mereka lindas buat lalapan, padahal kata kata
kita tak pernah mengenal tanah, jadi tak pernah kita pendam,
tak pernah mengenal air, hingga hanyut ke hilir atau pinggir pinggir
sungai dan dikail orang orang iseng, tak mengenal angin hingga
terkait layang layang lewat, namun entah mengapa mereka dengan
fasih berkejaran memetakan jalur jalur pelariannya
kata kata kita menjadi serupa mayat, pucat, basi, dingin, kesepian,
dan menyarungkan kafannya sendiri : pengingkaran
aku hanya berharap mereka tak mengganggu kita kelak dengan
berubah menjadi vampir kata yang menyedot darah pengertian
dan menghempaskannya pada kesalahpamahan
ah, kita masih saja berselisih kata yang meluncur dalam kecepatan
angin menjadi ular berkepala dua, beracun dan sungguh berlibido
membenih akar akar pahit dengan waktu panen mendahului musim
sudah saatnya kita menanamkan patok ke jantungnya, dan biar
hati saja yang mengambil alih
pati 28 juli 2010
bahkan pagar pun mereka lindas buat lalapan, padahal kata kata
kita tak pernah mengenal tanah, jadi tak pernah kita pendam,
tak pernah mengenal air, hingga hanyut ke hilir atau pinggir pinggir
sungai dan dikail orang orang iseng, tak mengenal angin hingga
terkait layang layang lewat, namun entah mengapa mereka dengan
fasih berkejaran memetakan jalur jalur pelariannya
kata kata kita menjadi serupa mayat, pucat, basi, dingin, kesepian,
dan menyarungkan kafannya sendiri : pengingkaran
aku hanya berharap mereka tak mengganggu kita kelak dengan
berubah menjadi vampir kata yang menyedot darah pengertian
dan menghempaskannya pada kesalahpamahan
ah, kita masih saja berselisih kata yang meluncur dalam kecepatan
angin menjadi ular berkepala dua, beracun dan sungguh berlibido
membenih akar akar pahit dengan waktu panen mendahului musim
sudah saatnya kita menanamkan patok ke jantungnya, dan biar
hati saja yang mengambil alih
pati 28 juli 2010
lukisan mata
di matamu kau lukiskan atap yang rubuh, tiang tiang
yang tersapu angin, tembok tembok yang tumbang,
dan sapuan debu sesudahnya, betapa kemudian debu
itu menjadi selimut menyesakkan di bawah langit, serpihan
kaca kaca jendela tumbuh menjamur menjadi bisul di
seluruh kulitmu, dan kaupun rebah, kalah, membatu
kulihat perlahan dian dian itu padam
aku ingin melukiskan langit di mataku
langit yang menurunkan hujan, menggumpalkan debu
menjadi tanah, dan mengelantangnya menjadi batu,
batu untuk kau jadikan tumpuan dan kau mencair
diatasnya, menegakkan kembali tiang tiang itu
namun
di matamu tak kulihat mataku
pati, 27 juli 2010
yang tersapu angin, tembok tembok yang tumbang,
dan sapuan debu sesudahnya, betapa kemudian debu
itu menjadi selimut menyesakkan di bawah langit, serpihan
kaca kaca jendela tumbuh menjamur menjadi bisul di
seluruh kulitmu, dan kaupun rebah, kalah, membatu
kulihat perlahan dian dian itu padam
aku ingin melukiskan langit di mataku
langit yang menurunkan hujan, menggumpalkan debu
menjadi tanah, dan mengelantangnya menjadi batu,
batu untuk kau jadikan tumpuan dan kau mencair
diatasnya, menegakkan kembali tiang tiang itu
namun
di matamu tak kulihat mataku
pati, 27 juli 2010
Selasa, 27 Juli 2010
mengapa kau sembunyi?
aku melihat luka ditubuhmu, menganga
meneriakkan tuhan yang katamu jauh
dan hanya dekat ketika kau panggil
namun kau merasa tak pernah memanggil
hingga dia menoleh karena katamu
'suaraku berlari larian serupa bisikan'
ah kau yang sungguh takut akan dosa
dan menyapa tuhan pada pagi
lukamu yang menganga
kembali menyerukan tuhan, sssst
sungguh Dia kah yang kau panggil?
lalu malam, lalu sunyi, lalu diam
dan memandang kubur
dalam kengerian yang sangat
(sungguh, kubur itu berpenunggu
itu membuatku jeri, katamu)
dan kaupun memandang peraduan
serupa tuhan bagi jiwamu
pati, 27 juli 2010
meneriakkan tuhan yang katamu jauh
dan hanya dekat ketika kau panggil
namun kau merasa tak pernah memanggil
hingga dia menoleh karena katamu
'suaraku berlari larian serupa bisikan'
ah kau yang sungguh takut akan dosa
dan menyapa tuhan pada pagi
lukamu yang menganga
kembali menyerukan tuhan, sssst
sungguh Dia kah yang kau panggil?
lalu malam, lalu sunyi, lalu diam
dan memandang kubur
dalam kengerian yang sangat
(sungguh, kubur itu berpenunggu
itu membuatku jeri, katamu)
dan kaupun memandang peraduan
serupa tuhan bagi jiwamu
pati, 27 juli 2010
akan kutetapkan di hari ke 8 minggu ini, adakah?
aku senantiasa menyuruhnya bergegas
tetapi mimpi itu datang merayap
dan selalu saja tiba atau hilang
tak seperti rindunya yang menggigilkan hatiku
menetap mengancam ilusiku
maka aku menyuruhnya bergegas
tetapi mimpi itu senantiasa merayap
mendaki pelan pelan bukit keinginan
berhenti diujung hari
lalu tiba dan hilang
aku ini bagai si dungu
menghitung tiap keping kemungkinan yang sama
putuskan saja, katamu
biarkan mimpi itu tiba
atau relakan lenyap!
tiba tiba saja aku serasa menggenggam
sebilah pedang
siap mengharakiri : mimpi !
pati, 26 juli 2010
tetapi mimpi itu datang merayap
dan selalu saja tiba atau hilang
tak seperti rindunya yang menggigilkan hatiku
menetap mengancam ilusiku
maka aku menyuruhnya bergegas
tetapi mimpi itu senantiasa merayap
mendaki pelan pelan bukit keinginan
berhenti diujung hari
lalu tiba dan hilang
aku ini bagai si dungu
menghitung tiap keping kemungkinan yang sama
putuskan saja, katamu
biarkan mimpi itu tiba
atau relakan lenyap!
tiba tiba saja aku serasa menggenggam
sebilah pedang
siap mengharakiri : mimpi !
pati, 26 juli 2010
padamu, kurangkum setiap embun yang mampu kurangkum
pada sebuah bangku hijau
yang berderit jika tergeser sedikit
aku tergugu melihatmu
duh, anakku
aku tak mengenal lagu denting pianomu
kalian bernyanyi sendiri di jiwaku
nyanyian gemericik sungai
nyanyian tunas di padang padang
pada jendela sebuah auditorium
kutebar senyum pada dunia
lihat, itu anakku
musiknya berbinar di matanya
lagunya adalah dia.....anakku
dan aku menari nari memetik matahari
pada sepotong nada
telah melimpah ruah pelangi
apa yang lebih indah dari buah hati
di hati ibu yang rebah oleh bangga?
pati, 25 juli 2010
yang berderit jika tergeser sedikit
aku tergugu melihatmu
duh, anakku
aku tak mengenal lagu denting pianomu
kalian bernyanyi sendiri di jiwaku
nyanyian gemericik sungai
nyanyian tunas di padang padang
pada jendela sebuah auditorium
kutebar senyum pada dunia
lihat, itu anakku
musiknya berbinar di matanya
lagunya adalah dia.....anakku
dan aku menari nari memetik matahari
pada sepotong nada
telah melimpah ruah pelangi
apa yang lebih indah dari buah hati
di hati ibu yang rebah oleh bangga?
pati, 25 juli 2010
sebuah kota yang setia mengukir kenangan
entahlah, masa kecilku terhenti
pada ingatan sebuah rok coklat tua
berhias segitiga tapak setrika
yang lupa diangkat
bau gosong
menusuk
tetap sama
berapa lama kau bisa lupakan sebuah kota
tempatmu dibentuk hingga mampu memilih
untuk tetap atau meninggalkannya
gambar gambar masa lalu yang terekam
dinding dinding putih yang diam, yang pernah
dalam suatu kurun berangan angan mengajar anak anak
tetangga tak beralas kaki belajar membaca tulisan
yang digores di dinding itu dengan sebuah arang
ah, sebuah arang yang harus tetap membara
tak peduli lengan kecilmu lelah, matamu perih
oleh keringat yang meluncur turun, dan bau
asap yang tetap menempel di rambutmu walau telah
kau cuci dengan sampo bubuk sachet yang ibu
siapkan di kisi kisi kamar mandi
ayam bakar pesanan tetangga itu harus matang
kota itu telah berubah kini, barangkali karena
sekarang dia harus mengukir kenangan seseorang
yang lain, bukan aku
gang gangnya menyempit bagai gambar gorong gorong
dalam lukisan seorang anak TK yang menggambarkan
saluran pembuangan wc, menyesakkan, semenyesakkan
gambar sebuah rumah berdinding putih
yang memerangkap ketakutan seorang anak :
siapa yang akan menulis dengan arang di dinding itu
jika aku pergi?
pati, 24 juli 2010
pada ingatan sebuah rok coklat tua
berhias segitiga tapak setrika
yang lupa diangkat
bau gosong
menusuk
tetap sama
berapa lama kau bisa lupakan sebuah kota
tempatmu dibentuk hingga mampu memilih
untuk tetap atau meninggalkannya
gambar gambar masa lalu yang terekam
dinding dinding putih yang diam, yang pernah
dalam suatu kurun berangan angan mengajar anak anak
tetangga tak beralas kaki belajar membaca tulisan
yang digores di dinding itu dengan sebuah arang
ah, sebuah arang yang harus tetap membara
tak peduli lengan kecilmu lelah, matamu perih
oleh keringat yang meluncur turun, dan bau
asap yang tetap menempel di rambutmu walau telah
kau cuci dengan sampo bubuk sachet yang ibu
siapkan di kisi kisi kamar mandi
ayam bakar pesanan tetangga itu harus matang
kota itu telah berubah kini, barangkali karena
sekarang dia harus mengukir kenangan seseorang
yang lain, bukan aku
gang gangnya menyempit bagai gambar gorong gorong
dalam lukisan seorang anak TK yang menggambarkan
saluran pembuangan wc, menyesakkan, semenyesakkan
gambar sebuah rumah berdinding putih
yang memerangkap ketakutan seorang anak :
siapa yang akan menulis dengan arang di dinding itu
jika aku pergi?
pati, 24 juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
