aku merasa seperti sepi sebuah stasiun tua, sepur sepur itu berdentang ketika kereta kereta lewat di atasnya, tapi aku tak bisa ikut pergi, terikat sepi yang terantai pada bangku bangku peron, dan sobekan karcis yang terinjak di lantai basah, dan dengungan suara yang menyesakkan :
'selamat datang para penumpang
selamat jalan para penumpang'
pukul berapakah ini, sayangku, karena ada yang bertahan tidur di kelopak mataku, berkemah di sana dan memanam sebatang pohon duri rupanya, durinya kerapkali menusuk bola mataku ketika aku terjaga, menciptakan sungai dalam derai hujan, kau lihatkah setangkup mawar? hendak kupinjam tiap kelopaknya ganti kelopakku yang telah menyerupa kantung hujan
aku terlelap di dapur tuaku sendiri, kekasihku, lelah dan lupa resep nenek berikut seluruh mantranya yang mampu mengubah sepi menjadi sesuatu yang garing dan renyah, jadi aku hanya merebusnya bersama duri duri yang berjatuhan dari kelopakku, tak usah khawatir sayang, tak kan kusajikan di meja makanmu, telah kutelan ganti sarapan pagiku, hanya tolong bangunkan aku ketika kau tiba di stasiun itu, dan melepas rantai sepi yang membandul di leherku
pati, 7 oktober 2010
Kamis, 07 Oktober 2010
hang on
malam telah lelah
dengkurnya begitu senyap
maaf, rindu ini
kulipat sejenak
kelak, biarlah terpapar
sewaktu kau ingat
pati, 6 oktober 2010
dengkurnya begitu senyap
maaf, rindu ini
kulipat sejenak
kelak, biarlah terpapar
sewaktu kau ingat
pati, 6 oktober 2010
siapa yang menandai?
seseorang mencatatkan waktu kedatangan, namun kepergiannya entah siapa yang menandai
dan guruh itu menandai kedatangan hujan yang redanya senyap teredam tanah
namun adakalanya tanah itu bukanlah rumah, dimuntahkannya segala sesuatu yang dipendam
ah, dimana angkuh itu
murka itu keluh bagimu
pati, 6 oktober 2010
dan guruh itu menandai kedatangan hujan yang redanya senyap teredam tanah
namun adakalanya tanah itu bukanlah rumah, dimuntahkannya segala sesuatu yang dipendam
ah, dimana angkuh itu
murka itu keluh bagimu
pati, 6 oktober 2010
teh
secangkir teh tarik : tersesat diantara yang kukenal, atau barangkali tidak, pernah kumiliki atau entah angan, gamang mencari keakuan disekian banyak aku, ataukah kau?
'telah kuseduh teh seruni itu
bersama doa doa leluhur
yang dibisikkan ibu di telingaku'
secangkir teh pahit :
tak usah kau cari aku pada jarak yang tak bisa kau hapus, sehari bagiku yang entah bagimu, tak selamanya semua bergerak lamban bukan? satu satu jam beku itu dicuri darimu pada sepersekian kedip matamu
pati, 6 oktober 2010
'telah kuseduh teh seruni itu
bersama doa doa leluhur
yang dibisikkan ibu di telingaku'
secangkir teh pahit :
tak usah kau cari aku pada jarak yang tak bisa kau hapus, sehari bagiku yang entah bagimu, tak selamanya semua bergerak lamban bukan? satu satu jam beku itu dicuri darimu pada sepersekian kedip matamu
pati, 6 oktober 2010
dua babak
tak pernah kulihat panas gersang bersahabat sedemikian erat dengan hujan seperti ini, bagai lakon dua babak dalam tema yang membuatku gelisah di tempat dudukku
lalu pada siapa sebenarnya aku mengeluh?
jadi akan kubuat demikian : kulukis pelangi berulang ulang, di langit, di tanah, di bisu, di gegap, di rincik, di sepoi
dan biar saja matamu mataku sibuk mendulang makna, ketika terjeda : bukankah demikian adanya rinai itu terserap tanah dan kabut itu terurai pergi?
pati, 5 oktober 2010
lalu pada siapa sebenarnya aku mengeluh?
jadi akan kubuat demikian : kulukis pelangi berulang ulang, di langit, di tanah, di bisu, di gegap, di rincik, di sepoi
dan biar saja matamu mataku sibuk mendulang makna, ketika terjeda : bukankah demikian adanya rinai itu terserap tanah dan kabut itu terurai pergi?
pati, 5 oktober 2010
aku berkeping keping
sepertinya benakku pecah berkeping keping, lalu badanku latah mengikuti ketika mencoba memaksa diri memunguti serpihannya satu satu, itukah yang terjadi ketika hujan sore itu, semata hancurnya hati langit atau saat daun daun gugur berserak semata remuknya niat pohon?
kau selalu muncul serupa pohon itu sayangku, terus tumbuh, dan tumbuh, dan aku ingin membayangkan diriku serupa tanah yang merangkummu, setia ketika kau tumbuh subur ataupun gugur dalam gigilmu, aku merangkummu dalam setia dan rindu yang tak mampu kugambarkan, entahlah apakah menyerupa kaki kaki meja itu atau pegangan pintu itu yang entah kupakai menutup atau membuka pintu
hari ini setia juga memelukku, sepertinya dia menyerupa tanah bagiku ketika aku serupa pohon baginya, dengan kesetiaan bagai kaki meja dan pegangan pintu
duh sayangku, benakku hancur berserakan
pati, 5 oktober 2010
kau selalu muncul serupa pohon itu sayangku, terus tumbuh, dan tumbuh, dan aku ingin membayangkan diriku serupa tanah yang merangkummu, setia ketika kau tumbuh subur ataupun gugur dalam gigilmu, aku merangkummu dalam setia dan rindu yang tak mampu kugambarkan, entahlah apakah menyerupa kaki kaki meja itu atau pegangan pintu itu yang entah kupakai menutup atau membuka pintu
hari ini setia juga memelukku, sepertinya dia menyerupa tanah bagiku ketika aku serupa pohon baginya, dengan kesetiaan bagai kaki meja dan pegangan pintu
duh sayangku, benakku hancur berserakan
pati, 5 oktober 2010
tikungan
kerentaan tumbuh jauh di dalam
waktu terus berlalu bukan, sayang?
mereka , wajah wajah tak ku kenal
patahan hari berserak juga
di setiap depa tubuh wajahnya
'kita ini peminjam hidup
berlalu laju pada renta'
dan aku merasa senasib
dengan tikungan tua ini
menunggu bis terakhir
menurunkan seseorang
; betapa rentanya rindu
pati, 3 oktober 2010
waktu terus berlalu bukan, sayang?
mereka , wajah wajah tak ku kenal
patahan hari berserak juga
di setiap depa tubuh wajahnya
'kita ini peminjam hidup
berlalu laju pada renta'
dan aku merasa senasib
dengan tikungan tua ini
menunggu bis terakhir
menurunkan seseorang
; betapa rentanya rindu
pati, 3 oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
