entah tersebab apa
lautan senantiasa mengirim anak gelombang
menuju pantai
entah tersebab apa
bumi begitu diam ketika akar akar
menyerap habis isi hingga magma
entah tersebab apa
hujan habis dikuliti
oleh sajak sajak kelabu
dan tersebab itu
biarkan aku mengurai
makna jarak
pati, 18 oktober 2010
Senin, 29 November 2010
sahabat badai
aku terpaksa menyimpanmu di sudut terjauh ingatanku, karena
entah mengapa langkah langkah pendek otakku sampai juga
kepadamu dan akan senantiasa membuatku lelah, bagai ketakberdayaan
mengusir ketukan ranting di jendela ketika badai, atau menghalau
tetesan hujan yang menyelinap sela sela pintu
kau terlalu rajin menyimpan anak anak badai di setiap jejak sepatu,
yang entah mengapa pula rajin terinjak kakiku, meletup letup di sela
jemari, menjadi jalan cacing menuju darahku dan menimbun borok
di hati
aku tak kan mengingkarimu dari masa lalu, namun semata mata
menyembunyikan jejakku di masa depan, ah aku serupa benar
pakaian lusuh di tiang jemuran yang mencoba melupa jejak jejak
air ditubuhnya
pati, 18 oktober 2010
entah mengapa langkah langkah pendek otakku sampai juga
kepadamu dan akan senantiasa membuatku lelah, bagai ketakberdayaan
mengusir ketukan ranting di jendela ketika badai, atau menghalau
tetesan hujan yang menyelinap sela sela pintu
kau terlalu rajin menyimpan anak anak badai di setiap jejak sepatu,
yang entah mengapa pula rajin terinjak kakiku, meletup letup di sela
jemari, menjadi jalan cacing menuju darahku dan menimbun borok
di hati
aku tak kan mengingkarimu dari masa lalu, namun semata mata
menyembunyikan jejakku di masa depan, ah aku serupa benar
pakaian lusuh di tiang jemuran yang mencoba melupa jejak jejak
air ditubuhnya
pati, 18 oktober 2010
rumahmu, Tuan
Tuan, pulanglah ke rumah, satu satunya kekasihmu yang setia
tak sungkankah kau umbar senyum tawamu, dan pulang dengan
bekal keluhmu? tak ada yang lebih setia dari rumahmu, Tuan
yang tetap diam ketika kau umbar cerita dongeng kilau rumah tetangga
atau kau lukis jendela jendela cemerlang rumah sebelah
rumahmu diam menunggu hujan menjernihkan dirinya
dalam diam, lewat mata jendelanya dilihatnya engkau, Tuan
menari nari melintasi rumput tetangga
bercengkrama dengan kupu kupu yang berulat d halaman rumahmu
rumahmu diam, Tuan
biarpun matahari dan kicau burung kau seret pergi menuju mata hasratmu
hanya dalam kilau yang meredup, dibisikannya namamu, Tuan
'ah engkau yang melipat segala sesuatu dibalik punggungmu
kutunggu kau dalam lelahmu'
pati, 16 oktober 2010
tak sungkankah kau umbar senyum tawamu, dan pulang dengan
bekal keluhmu? tak ada yang lebih setia dari rumahmu, Tuan
yang tetap diam ketika kau umbar cerita dongeng kilau rumah tetangga
atau kau lukis jendela jendela cemerlang rumah sebelah
rumahmu diam menunggu hujan menjernihkan dirinya
dalam diam, lewat mata jendelanya dilihatnya engkau, Tuan
menari nari melintasi rumput tetangga
bercengkrama dengan kupu kupu yang berulat d halaman rumahmu
rumahmu diam, Tuan
biarpun matahari dan kicau burung kau seret pergi menuju mata hasratmu
hanya dalam kilau yang meredup, dibisikannya namamu, Tuan
'ah engkau yang melipat segala sesuatu dibalik punggungmu
kutunggu kau dalam lelahmu'
pati, 16 oktober 2010
puisiku terluka separah aku
awan awan pernah menyembunyikan puisiku
hujan pernah memudarkannya
matahari pernah mengkelantang puisiku
hingga aku tak mengenalnya lagi
pernah seseorang mengurung
membangun pagar pagar berduri
tapi entah mengapa
aku terluka dengan sangat
ketika kau sembunyikan puisi puisiku di matamu
pati, 16 oktober 2010
hujan pernah memudarkannya
matahari pernah mengkelantang puisiku
hingga aku tak mengenalnya lagi
pernah seseorang mengurung
membangun pagar pagar berduri
tapi entah mengapa
aku terluka dengan sangat
ketika kau sembunyikan puisi puisiku di matamu
pati, 16 oktober 2010
ranting
kendurkan saja dawai lidahmu, kekasihku
dan simpan serapahmu di rawa rawa tempatnya berasal
biarkan kepekaan yang tumbuh sepanjang depa rambutmu
tumbuh menjadi ranting berbuah lebat
dengan daun yang tak lekang termakan ulat
atau rengat oleh tempayak
dan aku yang lelah
biarkan kali ini mendekam di bawah rantingmu
menikmati kesunyian yang kau laungkan dengan gigih
pati, 15 oktober 2010
dan simpan serapahmu di rawa rawa tempatnya berasal
biarkan kepekaan yang tumbuh sepanjang depa rambutmu
tumbuh menjadi ranting berbuah lebat
dengan daun yang tak lekang termakan ulat
atau rengat oleh tempayak
dan aku yang lelah
biarkan kali ini mendekam di bawah rantingmu
menikmati kesunyian yang kau laungkan dengan gigih
pati, 15 oktober 2010
menujumu
seekor semut menggeliat
terjepit di sela ubin ubin kelabu
terkadang sepertinya
puisiku mengelabu
di sela patahan kata
yang berjuang menujumu
pati, 14 oktober 2010
terjepit di sela ubin ubin kelabu
terkadang sepertinya
puisiku mengelabu
di sela patahan kata
yang berjuang menujumu
pati, 14 oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
