ketika waktu pecah, senyap membentangkan tangan, aku merangkulnya bagai yang terhilang
(bukan cahaya yang memudar di ujung senja, hanya cahaya pun yang membelah gelap)
pati, 14 maret 2011
Senin, 19 September 2011
layang
sepertinya, tak pernah langit menolak layang layang , walau tubuhnya hanyalah latar dalam tarian kertas, tersebab itu, kubiarkan sekelebat ingatan akanmu, melayang mencakrawala dalam benakku, melatar rindu
pati, 5 maret 2011
pati, 5 maret 2011
sedih, pada kamusku
diam diam cemas, menyadari : ini sedih,
menggumpal memilin, tiap kali waktu
teraba begitu kosong
pura pura tak peduli, seakan janji di
ambang pintu tergenapi pada setiap
kedipan
anak anak, alangkah bahagia tetap
kanak : teranglah pagi, gelaplah malam
apa, siapa bakal menyelinap menelikung?
pati, 3 maret 2011
menggumpal memilin, tiap kali waktu
teraba begitu kosong
pura pura tak peduli, seakan janji di
ambang pintu tergenapi pada setiap
kedipan
anak anak, alangkah bahagia tetap
kanak : teranglah pagi, gelaplah malam
apa, siapa bakal menyelinap menelikung?
pati, 3 maret 2011
medusa
aku, medusa
(dan kau diam membatu, dalam pusaran waktu yang menyerpih : tik, tak, tik, tak)
pati, 28 februari 2011
(dan kau diam membatu, dalam pusaran waktu yang menyerpih : tik, tak, tik, tak)
pati, 28 februari 2011
untukmu, yang setia menjaring angin
ada lambaian tanganmu
di puisi terakhir
hitam putih suara hati
mimpi kali ini berkelambu
memberi efek aura dramatis
kemana arah bayang?
tidakkah bahasa tangisan sama?
sebuah senyum yang terkubur
bisakah kau gambar di puisimu?
pada akhirnya adalah letih, sendiri, padahal aku dan kau tetap ada, sebisik apapun percakapan yang teredam , duga
(perlukah kuyakinkan bahwa kau puisi yang pernah ada?)
pati, 28 februari 2011
di puisi terakhir
hitam putih suara hati
mimpi kali ini berkelambu
memberi efek aura dramatis
kemana arah bayang?
tidakkah bahasa tangisan sama?
sebuah senyum yang terkubur
bisakah kau gambar di puisimu?
pada akhirnya adalah letih, sendiri, padahal aku dan kau tetap ada, sebisik apapun percakapan yang teredam , duga
(perlukah kuyakinkan bahwa kau puisi yang pernah ada?)
pati, 28 februari 2011
simalakama
dan kitapun kembali menjadi bayi, menangisi jalan
kelahiran, tersebab ketaktahuan atau ketahuan yang
primordial, dan tangisan kita mengeras seiring
kelahiran hari, timpang, sungsang
kau, aku, berlari dalam pertandingan tanpa wasit,
sebab rambu kita tinggalkan jauh di belakang,
dengan akal tersisa, tersedak waktu, mencari hati
yang tenggelam
pati, 27 februari 2011
kelahiran, tersebab ketaktahuan atau ketahuan yang
primordial, dan tangisan kita mengeras seiring
kelahiran hari, timpang, sungsang
kau, aku, berlari dalam pertandingan tanpa wasit,
sebab rambu kita tinggalkan jauh di belakang,
dengan akal tersisa, tersedak waktu, mencari hati
yang tenggelam
pati, 27 februari 2011
angkringan
hari ini tak ada kopi pekat, aku kehilangan secangkir malam, dan tepi jalan yang membiarkan kota tidur di balik punggungnya.
tak ada percikan bara, gulungan asap mendupa, dan alunan gumamam mereka yang memilih menggantung jubah lelah di balik pintu, berbagi tikar dengan malam setengah tua
tak ada senyuman bibir kopi, dan desah puas penikmat hari, di malam lelet yang mendengungkan nina bobo
pati, 24 februari 2011
tak ada percikan bara, gulungan asap mendupa, dan alunan gumamam mereka yang memilih menggantung jubah lelah di balik pintu, berbagi tikar dengan malam setengah tua
tak ada senyuman bibir kopi, dan desah puas penikmat hari, di malam lelet yang mendengungkan nina bobo
pati, 24 februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
