kita hanya patung keras kepala
memahat sajak sajak
mencari kata kata
terjebak kamus
ah biar saja, lalu katamu
itu sajak patung
orang orang mencari jejak patung
'oh patung ini berhasil menjadi dirinya
tak ada jejak yang kami temukan!'
kita kemudian ramai menjelaskan
diam itu jejak
berupaya mencintai adanya
jadi jejak itu cinta
dan kita menjadi patung yang bahagia
memahat sajak sajak cinta yang diam
orang orang mulai membuat
perahu dari sajak
mengapung di air tenang dan bergelombang
pakaian dari sajak
menutup diri serapat yang terbungkus
pagar pagar dari sajak
membenteng semak semak duri
layang layang dari sajak
membalas sapaan angin dan matahari
bendera dari sajak
berkibar menyerukan cinta dan kesunyian
dan kita kembali menjelma patung keras kepala
membuat sajak sajak cinta
yang setia pada diam
tenggelam
koyak
putus
hilang
pati, 28 september 2010
Selasa, 28 September 2010
panggung
sebagian kota bersiap tidur
sebagian bersolek
menyisir tubuh
sebagian memecah batu
menyusun keringat
lampu lampu jalan
jauh dan setia
bagai cahaya panggung
tak peduli lakon yang berlangsung
ada sesuatu yang ganjil
karena aku bagian latar
pati, 27 september 2010
sebagian bersolek
menyisir tubuh
sebagian memecah batu
menyusun keringat
lampu lampu jalan
jauh dan setia
bagai cahaya panggung
tak peduli lakon yang berlangsung
ada sesuatu yang ganjil
karena aku bagian latar
pati, 27 september 2010
sajak hitam
dari balik jendela
semua terlihat sama
langit hitam
daun daun hitam
tanah hitam
batu hitam
barangkali hitam itu
lekat di kaca jendela
rakus memakan semua cahaya
kujauhi jendela
seiring malam yang jauh
pati, 26 september 2010
semua terlihat sama
langit hitam
daun daun hitam
tanah hitam
batu hitam
barangkali hitam itu
lekat di kaca jendela
rakus memakan semua cahaya
kujauhi jendela
seiring malam yang jauh
pati, 26 september 2010
di bawah mendung yang pecah
Langit september, murung, dan tiba tiba pecah berderai derai, memukul kaca jendela, tetesannya berlomba mencapai ambang jendela
Paitua, di luar tak ada penjaja payung sewaan, tak ada taksi dan motorku tak beratap, hanya langit yang murung dan pecah
Hujan sedang terjun bebas rupanya, dentumnya memukul seng seng dapur, jadi teringat film film perang, di salah satu adegannya mereka menggigil berperang di tengah hujan bukan?
Sungguh, sepertinya aku harus melajukan motorku, tak di bawah payung, hanya langit mendung yang pecah
pati, 26 september 2010
Paitua, di luar tak ada penjaja payung sewaan, tak ada taksi dan motorku tak beratap, hanya langit yang murung dan pecah
Hujan sedang terjun bebas rupanya, dentumnya memukul seng seng dapur, jadi teringat film film perang, di salah satu adegannya mereka menggigil berperang di tengah hujan bukan?
Sungguh, sepertinya aku harus melajukan motorku, tak di bawah payung, hanya langit mendung yang pecah
pati, 26 september 2010
Sabtu, 25 September 2010
kredo september
lengan september seperti mengibasku : 'pergi sana, jalan sendiri' duh, aku kelimpungan, jadi kusambar saja ujung bajunya, 'temani aku, temani aku' tak pernah aku semalu ini mendengar rengekanku sendiri
oktober, sang saudara tua, selintas memunculkan wajahnya, aku lupa entah dia tersenyum, entah melengos, hanya kudengar desisnya :'adik kecil, adik kecil, dimana keliman rok rokmu tempat kau sembunyi?' dan sedih itu membenamkan senyumku sendiri : telah lama bukan aku tak ber-rok?
lalu kumpulan hari yang kulupa namanya, menepuk bahuku dengan keramahan yang bisa mereka tawarkan: 'sudahlah, melebur saja dengan kami' dan aku berlari lari meminta seseorang membuatkanku sepotong rok tempatku sembunyi
pati, 25 september 2010
oktober, sang saudara tua, selintas memunculkan wajahnya, aku lupa entah dia tersenyum, entah melengos, hanya kudengar desisnya :'adik kecil, adik kecil, dimana keliman rok rokmu tempat kau sembunyi?' dan sedih itu membenamkan senyumku sendiri : telah lama bukan aku tak ber-rok?
lalu kumpulan hari yang kulupa namanya, menepuk bahuku dengan keramahan yang bisa mereka tawarkan: 'sudahlah, melebur saja dengan kami' dan aku berlari lari meminta seseorang membuatkanku sepotong rok tempatku sembunyi
pati, 25 september 2010
sajak hati
Hati,
pelimbahan,
ungunya duka
birunya rindu
kelamnya sakit
merahnya angkara,
lalu,
dimana sang umbul?
pati, 25 september 2010
pelimbahan,
ungunya duka
birunya rindu
kelamnya sakit
merahnya angkara,
lalu,
dimana sang umbul?
pati, 25 september 2010
ketika cahaya itu padam
Ada wilayah tak berambu, selapis demi selapis mengirismu. Tak ada yang bisa bedakan kau dan udara tipis, menggantung sama sama rendah. Sebenarnya, apa yang mereka tanam di dadanya? Bintang matikah atau hanya lubang hitam
Ada wilayah tak berdenah, kau bisa petik bintang di pinggir kali, atau membuangnya di sumur terdekat yang kau jumpai.
Betapa kelam mata mata itu, mati. Jangankan hati, kadang kupikir betapa ratanya wajah mereka, tak berhidung, tak bertelinga, hanya dua rongga gelap, tak berdasar.
Kulihat betapa matahari mencacah kulitnya, membenamkannya dalam ilusi dunia tak berneraka.
pati, 24 september 2010
Ada wilayah tak berdenah, kau bisa petik bintang di pinggir kali, atau membuangnya di sumur terdekat yang kau jumpai.
Betapa kelam mata mata itu, mati. Jangankan hati, kadang kupikir betapa ratanya wajah mereka, tak berhidung, tak bertelinga, hanya dua rongga gelap, tak berdasar.
Kulihat betapa matahari mencacah kulitnya, membenamkannya dalam ilusi dunia tak berneraka.
pati, 24 september 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
