selalu ada yang terkoyak
entah di bagian mana dari celana bajumu
entah kantong saku, lalu
senyum terkoyak
hari senantiasa terkoyak, sayang
tak utuh
sekoyakan buat matahari
sekoyakan buat hujan
lalu selanjutnya sumpah serapah
juga doa doa yang runut
bersikutan mengoyak langit
perjalananmu terkoyak bukan?
karena mereka yang bergerak
berlomba mengoyak hatimu
biar saja, kekasih
kita semata koyakan
memanusia
pati, 5 februari 2011
Rabu, 23 Februari 2011
benih hujan
adalah benih ilalang
yang tumbuh di mata hujan
'aku terusir dari negeriku
yang tak menumbuhkan apa apa'
dan hujan memilih terbang bersama angin
untuk hinggap satu satu
tumbuh
mengilalang
pati, 4 februari 2011
yang tumbuh di mata hujan
'aku terusir dari negeriku
yang tak menumbuhkan apa apa'
dan hujan memilih terbang bersama angin
untuk hinggap satu satu
tumbuh
mengilalang
pati, 4 februari 2011
wangi
/1/
Ranting ranting tanjung,
berjalin berayun ayun.
Hilang bunga berjatuhan,
kenangan silam dan bayang.
Kota tak mampu lagi mencium,
wangi di sanggul sanggul nenek.
/2/
Ah kemuning,
sungguh aku mengenalmu
(bayangan lorong kumuh,
rumah padat tak berpagar
dan kemuning lelah menunggu gunting)
pati, 3 februari 2011
Ranting ranting tanjung,
berjalin berayun ayun.
Hilang bunga berjatuhan,
kenangan silam dan bayang.
Kota tak mampu lagi mencium,
wangi di sanggul sanggul nenek.
/2/
Ah kemuning,
sungguh aku mengenalmu
(bayangan lorong kumuh,
rumah padat tak berpagar
dan kemuning lelah menunggu gunting)
pati, 3 februari 2011
pada suatu masa
di bawah tatapan langit
curahan hujan yang jatuh
mengalir terburu buru
menghanyutkan kuncup bunga jambu
ah, tidakkah menunggu ia berkembang?
daun daun kidmat
mengangguk takjim
seakan mengerti
alasan hujan
berlalu terburu buru
memisahkan calon bunga
dan dirinya
pada suatu masa, kau terburu buru
begitu saja
adakah kau rasa de javu?
pati, 2 januari 2011
curahan hujan yang jatuh
mengalir terburu buru
menghanyutkan kuncup bunga jambu
ah, tidakkah menunggu ia berkembang?
daun daun kidmat
mengangguk takjim
seakan mengerti
alasan hujan
berlalu terburu buru
memisahkan calon bunga
dan dirinya
pada suatu masa, kau terburu buru
begitu saja
adakah kau rasa de javu?
pati, 2 januari 2011
adakah yang terlewat?
Tanpa pengenalan, puisi itu lahir, panjang memusingkan, pendek terpenggal, seperti gerbong kereta tak beraturan. Melaju. Tanpa stasiun.
Kereta tak mencari penumpang, tak ditinggal penumpang. Tiba tiba merindukan batas langsir. Peron. Karcis.
Rel rel itu dimana?
Perlahan kereta belajar menyelaraskan desis. Di luar rel, di atas rel. Tanpa stasiun.
Rel rel itu ditemukan. Simpang siur.
'Adakah yang terlewatkan?'
pati, 1 februari 2011
Kereta tak mencari penumpang, tak ditinggal penumpang. Tiba tiba merindukan batas langsir. Peron. Karcis.
Rel rel itu dimana?
Perlahan kereta belajar menyelaraskan desis. Di luar rel, di atas rel. Tanpa stasiun.
Rel rel itu ditemukan. Simpang siur.
'Adakah yang terlewatkan?'
pati, 1 februari 2011
: dingin
hujan yang tanggung
gigil berdesir meruam
ujung jemari yang tak patuh
hidangan yang tak terelak
: sebab terendapkan segala hal yang terbasuh,
dingin
pati, 1 februari 2011
gigil berdesir meruam
ujung jemari yang tak patuh
hidangan yang tak terelak
: sebab terendapkan segala hal yang terbasuh,
dingin
pati, 1 februari 2011
andai
ah, jadi begitulah rupanya,
kisah ranting patah yang hendak kau dengar, berderak dan berdebum di tanah,
tanah yang juga menyimpan lukanya sendiri
ranting diam, melintang sendiri,
cabikan tajam di kedua ujung, dan kulit terkelupas
bagaimana jika ku ceritakan sebuah pengandaian?
ranting patah jatuh berdebam ke tanah, besertanya
turut helaian daun dan sekuncup bunga mekar
bunga yang pernah dipandang penuh cinta
entah karena cinta, ataukah hukum alam, ataulah hanya sekedar hujan menjadi hujan, dan matahari yang
mematahari, bunga layu menyebar benih dan tumbuh
di sela ranting patah
sebuah perandaian lain, semata kepasrahan
ranting rela hilang dan terurai, entah cinta
ataukah hukum alam, ataulah hanya perhitungan waktu, begitu saja sebuah kehidupan baru begitu berharga,
maka sedang ia terurai lenyap, sang bakal tumbuh,
hidup
jadi, berapa harga pedih dan cinta itu?
apakah nalar mampu mengurangi dan menambah
teraannya?
ah, memang sebuah andai.....
pati, 31 januari 2011
kisah ranting patah yang hendak kau dengar, berderak dan berdebum di tanah,
tanah yang juga menyimpan lukanya sendiri
ranting diam, melintang sendiri,
cabikan tajam di kedua ujung, dan kulit terkelupas
bagaimana jika ku ceritakan sebuah pengandaian?
ranting patah jatuh berdebam ke tanah, besertanya
turut helaian daun dan sekuncup bunga mekar
bunga yang pernah dipandang penuh cinta
entah karena cinta, ataukah hukum alam, ataulah hanya sekedar hujan menjadi hujan, dan matahari yang
mematahari, bunga layu menyebar benih dan tumbuh
di sela ranting patah
sebuah perandaian lain, semata kepasrahan
ranting rela hilang dan terurai, entah cinta
ataukah hukum alam, ataulah hanya perhitungan waktu, begitu saja sebuah kehidupan baru begitu berharga,
maka sedang ia terurai lenyap, sang bakal tumbuh,
hidup
jadi, berapa harga pedih dan cinta itu?
apakah nalar mampu mengurangi dan menambah
teraannya?
ah, memang sebuah andai.....
pati, 31 januari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
